Pernahkan
Anda memikirkan rahasia sesungguhnya dari sebuah kesuksesan? Mengapa di dunia
ini hanya sedikit orang sukses dan jauh lebih banyak orang gagal? Sepanjang
sejarah dunia, orang-orang telah membicarakan tentang formula-formula dalam
mencapai kesuksesan, tetapi kenyataannya dunia lebih banyak dipenuhi oleh
orang-orang gagal dibandingkan orang sukses.
Seorang maha guru motivasi, Earl
Nightingale, merumuskan kunci kesuksesan hanya dalam enam kata singkat.
Menariknya seperti pisau bermata dua, keenam kata ini juga merupakan kunci
kegagalan seseorang. Apakah enam kata itu? Keenam kata tersebut adalah, “ We Become What We Think About” (Kita
akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan)
Di
suatu kampung hiduplah seorang peramal yang mampu meramal kehidupan seseorang
pada masa mendatang. Peramal ini begitu hebatnya sehingga hamper setiap ramalan
yang dibuatnya menjadi kenyataan. Suatu ketika datanglah dua orang ibu muda
secara bersamaan dan masing-masing membawa bayi mereka untuk diramalkan
nasibnya dikemudian hari. Bayi dari ibu pertama diramal akan menjadi seorang
pengusaha besar sedangkan bayi dari ibu yang kedua diramal akan menjadi
pengemis ketika dewasa nanti. Pulanglah kedua ibu muda itu kerumahnya
masing-masing.
Ibu
pertama sangat senang dan bangga karena kelak anaknya akan menjadi seorang
pengusaha yang kaya raya. setiap bertemu dengan orang lain, dengan penuh
keyakinan ini menceritakan nasib anaknya kelak. yakin bahwa anaknya kelak akan
menjadi orang sukses, ibu inipun dengan penuh semangat melatih dan mengajarkan
anaknya berbagai macam hal. sejak kecil anak ini diikutkan kursus berhitung,
bahasa asing, dan computer. Dibelikan buku-buku biografi para pengusaha besar.
di ikutkan seminar-seminar yang mampu mengubah sikap dan mental dari si anak
untuk menjadi pribadi yang sukses.
Lain
halnya dengan ibu yang pertama, termakan oleh perkataan si peramal bahwa nasib
anaknya kelak adalah menjadi seorang pengemis. ibu kedua merasa sangat sedih
dan kecewa dengan bayinya. Si ibu merasa terbebani dalam mengasuh anaknya.
Setiap hari anak ini ditelantarkan begitu saja untuk melakukan apapun yang dia
mau. anak inipun oleh kedua orang tuanya tidak disekolahkan, orang tuanya
berpikir buat apa disekolahkan karena toh anaknya hanya akan menjadi seorang
pengemis.
Itulah
kekuatan keyakinan. apa yang kita yakini, itulah yang akan membentuk sikap dan
perilaku kita. Ibu muda pertama yang yakin bahwa anaknya akan sukses, akan
bersikap dan berperilaku terbaik agar keyakinannya dapat terwujud. Ibu muda
kedua yang yakin bahwa anaknya akan gagal, akan bersikap dan berperilaku
tertentu sehingga menjadikan anaknya betul-betul gagal.
Tahukah
Anda titik tertinggi yang ada di muka bumi ini? Letaknya ada di Mount Everest.
Konon, jika kita berdiri di titik tertinggi tersebut, seluruh permukaan bumi
dapat terlihat walaupun agak buram karena tertutup awan. Bayangkan saja, jika
Anda dapat berdiri pada ketinggian 29.028 kaki atau hampir 10 kilometer di atas
permukaan laut.
Mount
Everest terletak di antara Tibet dan Nepal, selama tahun 1920 hingga 1952 telah
ada tujuh kali ekspedisi besar-besaran untuk menaklukan puncak tertinggi di
dunia itu, tetapi semuanya gagal. pada tanggal 29 Mei tahun 1953, Edmund
Hillary behasil menorehkan tinta emas sebagai manusia pertama yang berhasil
mencapai puncak tertinggi di muka bumi tersebut.
Edmund
Hillary adalah seorang pendaki gunung professional. hampir seluruh puncak gunung di New Zealand telah ia
daki, setelah itu dia beralih ke pegunungan Alpen dan Himalaya. Sejak pertama
kalinya dia tertarik untuk mendaki gunung, cita-cita terbesarnya adalah
menaklukan puncak Mount Everest. Dalam
biografinya dia bercerita, “Setiap hari cita-cita itu selalu terlintas di
pikiran saya sehingga apa pun yang saya lakukan saya teringat padanya.”
Besarnya
keyakinan Edmund Hillary bahwa dia bisa menaklukan puncak Mount everest
membuatnya sangat percaya diri. setelah siap dengan berbagai pengalaman mendaki
puncak-puncak tertinggi di dunia, barulah dia mencoba Mount Everest.
Untuk
bisa mencapai kesuksesan dalam menaklukan everest, Hillary mencoba berbagai
macam cara. Terhitung, ia telah dua kali gagal dalam ekspedisinya mencapai
everest. Pada ekspedisi ketiga, Mount Everest akhirnya berhasil ditaklukannya.
Sekembali dari puncak Everest, ia memberikan sebuah pernyataan sederhana dengan
makna yang sangat dalam, “It is not the mountain that we conquer, but
ourselves” (Bukan gunung yang kami taklukan, tetapi diri kami sendiri)
Keberhasilan
Edmund Hillary dalam menaklukan Mount Everest terletak pada suatu hal yang
snagat penting yaitu, keyakinannya yang kuat terhadap diri sendiri dalam
mencapai cita-cita. Dengan keyakinan yang begitu positif, ia mau melakukan apa
saja yang bisa merealisasikan cita-citanya.
Keyakinan
mendalam terhadap suatu cita-cita atau target tertentu dalam hidup akan memacu
Anda untuk bersikap positif. Dengan sikap positif ini, Anda akan mencari
berbagai cara untuk bisa merealisasikan
cita-cita Anda. Jika Anda yakin bahwa pelajaran matematika adalah mudah,
otak Anda yang luar biasa akan mencari berbagai macam cara untuk membuktikan
bahwa matematika itu mudah. Jika Anda yakin dapat memperoleh nilai bagus dalam
suatu mata pelajaran, maka seluruh potensi diri yang Anda miliki akan keluar
dan merealisasikan keyakinan Anda tersebut. Dan jika Anda yakin bahwa Anda akan
menjadi pribadi yang sukses, maka seluruh alam raya akan berkonspirasi untuk
mewujudkannya.
Berhentilah
melakukan sabotase diri dengan berpikiran dan berkeyakinan negative dengan
berpikir bahwa Anda bodoh dan tidak berbakat. Semua orang mampu mendapat nilai
bagus, bahkan orang-orang yang menderita kesulitan belajar atau berprestasi
buruk dimasa lalu atau mungkin tidak mendapat dukungan keluarga.
Tahukah
Anda siapa Albert Einstein? Ya, dia adalah orang yang hingga saat ini diakui
sebagai orang terjenius yang pernah ada di muka bumi ini. Dialah sang jenius
fisika penggagas teori relativitas. Tapi tahukah Anda bahwa ketika kecil Einstein di anggap sebagai anak yang tidak normal dan
cenderung bermasalah. Einstein kecil tidak dapat berbicara hingga berusia lima
tahun. Ia beberapa kali gagal dalam mengikuti tes masuk sekolah dasar. Dikelaspun dia dianggap sebagai siswa yang
paling bodoh, tidak normal, aneh, dan divonis sebagai anak yang bermasalah
dalam pelajaran.
Einstein kecil tidak mau belajar apa
bila ia tidak suka pelajarannya oleh karena itu ia sering bolos pada saat
pelajaran bahasa, sastra dan menggambar. Ia membolos untuk melakukan aktivitas
yang disukainya tadi. Sehingga pada akhirnya Einstein tidak berhasil lulus SMP,
melainkan hanya mendapat keterangan pernah bersekolah SMP dari sekolahnya.
Berbekal surat keterangan tersebut
ia nekad berusaha melamar di SMA, sebagian besar sekolah SMA yang didatanginya
menolak, namun Einstein dan orang tuanya tidak pernah patah semangat untuk
terus mencoba hingga akhirnya ada sekolah SMA yang menerimanya.
Setelah SMA kelakuannya masih sama
saja tidak pernah berubah, ia hanya suka pelajaran Matematika dan Fisika saja,
jadi Einstein
masih sering membolos di pelajaran-pelajaran yang tidak dia sukai, sampai
akhirnya ia kembali dinyatakan sebagai anak yang tidak tamat SMA. dan untuk
kedua kalinya ia di nyatakan gagal lagi disekolah.
Meskipun Einstein tahu ia tidak
belum tamat SMA dan tidak punya pernah punya ijazah; ia tetap berani melamar ke
perguruan tinggi. dengan keyakinannya yang penuh, pada Tahun 1895 ia melamar di Politeknik Federal,
di Zurich Swiss tapi sayang ia gagal di ujian masuk dan menurut sekolah tsb,
usianya pun masih terlalu muda. Lalu dia diminta menamatkan SMAnya terlebih
dahulu, baru setelah itu ia melamar lagi dan akhirnya di terima sebagai
mahasiswa di Politeknik Federal, Swiss.
Jangan
pernah mulai berpikir bahwa Anda bodoh atau “tidak mampu mendapat nilai bagus.”
Semuanya di mulai dengan keyakinan dalam benakmu. yakinlah bahwa Anda bisa
melakukannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar